Selasa, 17 April 2012

REMBULAN MEWAKILI ISI HATIKU

ah, kau seakan mewakili isi hatiku
cahyamu  bagai ingin terang sendiri kala waktu itu
pada langit hitam dan kelam angin malam
kau urung sejenak,acuh mengatur jarak
pada siapa enggan menggoda
bintang yg mengerling berlalu sudah
seperti debu yg terhimpun lalu hilang timbul diperaduan

ah,kau yg memang benar bermetamorfosa tak sempurna
dulu,kau -  sungguh itu  - aku
yg gemar bermain di kesendirian
di sudut ajimut
lalu merangkak ke pucukpucuk bianglala
kita memuai
pada perbedaan yg hampir serupa
menyatu dalam lingkup persamaan

ah, kau
rembulan kuning yg beranjak kelabu
kau sungguh aku
yg mewakili isi hatiku



Medan, 23.12.2010
N.K

AKU, CINTAKU, SEBUTIR DEBU

Dulu, Cintaku tak lebih dari Sebutir Debu 
lalu tumbuh berpuluh ribu menjadi aku, Merindu
saat Maya menjadikannya Nyata 
memupuk rasa di Keabsahan Sang Maha

tak perlu risau bila perkara Debu 
dimana Adam sebelum Debu?
 : bahkan Semesta pun terlahir dari seonggok Debu bernama Nebula 
Lantas menjadikannya keindahan yang menghidupkan
Matahari, Bumi, Bintang gemintang 
Batu-batu dicumbuhi Lumut-lumut 
menginangi Biota-biota hidup di dalamnya
evolusi-evolusi Hayati
Tanah, Air, Api, Udara 
Unsur Hidup Semesta yang tiap nafas Berzikir menyebut Asma
pinus-pinus pun berShaf-shaf  rapi di sepanjang Khatulistiwa
lalu aku, yang dulu Batu menjadi Debu setelah Luruh 

aku, yang dulu Batu menjadi Debu 
Memupuk rasa lalu Merindu 
Menjemput CintaMu



MEDAN, 15-04-2011 
~Sajak N.K

MATA HATI


Melihatmu tak sebatas bentuk
tak sebatas rupa
tak sebatas apa-apa yang tersirat di mata

melihatmu, jauh seperti membaca
mengeja
melirik tekateki
bilik-bilik tersembunyi
di balik ada-mu


Medan, 13-06-2011 
~Sajak N.K

DI SEBATANG ASAP KUBERTUALANG

: Di Sebatang Asap Kubertualang


Waktu terus berpacu
diantara bara dan abu
ada risau yang terabaikan
saat ujung jemari
berkali lentik memetik percik
dan tak pula berujung puas

disini tegun ku nikmati
asap mengepul menikah siri
merentak gemulai tarian si putih
di rongga-ronga hati
paru-paru dan ventilasi
lalu  pergi membentuk wujud tanpa bias
menggiring pulas pada malam yang hampir tergilas

malam ini begitu ringan
ku ingin terbang tanpa beban
ku ulur benang segumpal kepal
benang panjang dari pembakaran
layanganku pun liar melayang-layang




Medan, 21-09-2011
 ~ N.K

PERTEMUAN PUTIH

Hanya sepenggal nada pendek dan mata cokelat yang menari-nari
waktu mendadak terhenti
meski perhelatan baru saja dimulai
dan hingar bingar yang perlahan memadati ruang-ruang kosong perjamuan
sedari tadi masih sama kita nikmati
dalam peraduan mata yang paling diam
mengalir seperti riam

dum, ada yang meledak di sini
di hati
milyaran atom  sedang melepas energinya sendiri
dan meledak
bikin sesak

aku ingat benar perasaan ini
rasa yang mampu mengaduk duka dan suka menjadi satu
menjadikan hari makin berwarna
dulu pernah pergi dan kini datang kembali
seperti ingat jalan pulang kepada yang hak

jika tiada peng-andaian malam ini
yang tergadai 'tlah beranjak jauh dan hati masih terbelenggu
kaca pecah
remuk redam diriku memandang bayangan

bisik bimbang datang berulang kali seperti rotasi
mendaur dan pelan-pelan mendesir
pecah
merencah ladang gersang

mungkin suara-suara itu akan segera pulang
di suatu sore, meski tanpa undangan
lalu berlalu-lalang di ujung kepala
membawa  kabar gembira
atau sekedar menggoda
mengaduk gundah dan membuncah




Medan, 22 November 2011 
Sajak N.K

Senin, 16 April 2012

INISIAL "C" (I)

I.

Sayang,
Baumu kembali tercium di butiran Almond Amygdala-ku.
di setiap dentikan jarum jam berpindah,
di hela nafas dan katup mata yang menebal,
di difusi hati,
seperti riuh gerimis mengalir,
rerumput pasrah.

sayang, adakah waktu mampu menutup luka,
pada yang menganga dan tak pernah kering.
aku ingin menjadi matahari dan tegar.



Medan, 08 April 2012
N.K

INISIAL "C" (II)

II.


Aku tak mampu berdusta. atau -mungkin- tak sanggup lagi mendusta. ketika khayal begitu liar bermain rasa di dinding hati. begitu lekat menjadi entah. begitu luruh membutir pasir membentuk waktu. di sana ada detik yang melingkar panjang membentur batu.

dan bacalah di dinding-dinding tanpa jendela. di liur langit menggenap semalam, merekatlah sekuntum mawar menabur duri. wewangi apa yang kutiduri. wewangi bunga? wewangi langkah mentari pergi ? melepas bayangkah?
wewangi debu di mata oase, aku menghunus haus sedalam daging.

ada jejak yang tertinggal, di lubuk perigi, lubuk terdalam mahira. jatuh mendentingkan riak.
dan waktu yang terjatuh di baris kelima deretan mei, masih merah terlingkar. semerah telapak kakimu dulu. yang menjinjit mundur di kisah tak berujung. air mata batu. jangan lepas kata bungkam.



Medan, 08 April 2012
N.K

SEBAIT GARIS


Seberapa jauh perjalan itu, kita terlalu letih menghitung hela langkah nafas sendiri.
sebab tak ada yang tahu pasti ujungnya.
menerka-nerka kita buta.
namun begitu indah bukan
jika kita jalankan ikhlas.
sesempit apapun  jalan itu dilalui,
di tepinya akan tumbuh berderet pohon palem
membentuk baris,  kita lewati satu per satu.
tak ada cemas sebab teduh menghampiri
bayangan saling menimpah tindih
dan hari-hari hanya tahu melangkah maju.


Medan, 09 April 2012
N.K