lung terbenam
kutemukan lazuardi di pucuk
matamu yang paling dalam
bisu-mu lingga bertulis aksara
bergelantung
bak mayang sebelum lambai
mengapa mesti
menunggu, kekasihku
merenung pun tak mencapai muntaha
kita
hanya insan dalam laju perburuan
atas permainan yang
tertuju entah pada siapa
sebab kehidupan adalah hijrah
yang paling nyata
dari ada menuju tiada,
kembali ada setelah tiada
seperti genggaman di
lipatan saku
tak perlu menyangkal meski mata tak
membaca
atau lupa adalah hal yang lumrah?
berlabuh
lah di satu titik, lantas rampungkan
puzzle yang
terserak mesti tersusun
sebelum raga tersantap waktu
Medan, 16,02,2011
~N.K