Kita sama-sama menghitung kepak angin yang beriak sore tadi.
denyir mata air
dan basah bibir bunga membingkai dingin bebatuan lembab.
mengintari pertemuan sunyi hingga enggan mengusik gerak.
adakah lidahku terpaku?
sebab, tak ada kata-kata yang lebih sunyi dari air yang menetes di kelopak matamu.
biru dan begitu dalam kumeraung gigil.
sempat kutanam rindu di rumbai akar mahoni.
benih asa yang kian turun dan telah menjulang tinggi
menembus jantung anak tanah.
kini gugur sebagai dedaun tua dan payah,
mengantarkan pesan luka
di lembaran surat tanpa nama.
begitu sepi di semerbak wangi
begitu senyap dan lelap
pancuran bisu
angin menghembusi dahan, gerak begitu lambat tercitra,
dan bangku itu tetap saja kosong.
aku ingin berlari saja.
mengejar bayang di ujung ufuk
menggenggam jingga
sebelum habis ditelan gedung-gedung angkuh.
biar kelabu,
biar telanjang waktu.
Medan, 01-02-2012
N.K
denyir mata air
dan basah bibir bunga membingkai dingin bebatuan lembab.
mengintari pertemuan sunyi hingga enggan mengusik gerak.
adakah lidahku terpaku?
sebab, tak ada kata-kata yang lebih sunyi dari air yang menetes di kelopak matamu.
biru dan begitu dalam kumeraung gigil.
sempat kutanam rindu di rumbai akar mahoni.
benih asa yang kian turun dan telah menjulang tinggi
menembus jantung anak tanah.
kini gugur sebagai dedaun tua dan payah,
mengantarkan pesan luka
di lembaran surat tanpa nama.
begitu sepi di semerbak wangi
begitu senyap dan lelap
pancuran bisu
angin menghembusi dahan, gerak begitu lambat tercitra,
dan bangku itu tetap saja kosong.
aku ingin berlari saja.
mengejar bayang di ujung ufuk
menggenggam jingga
sebelum habis ditelan gedung-gedung angkuh.
biar kelabu,
biar telanjang waktu.
Medan, 01-02-2012
N.K
Tidak ada komentar:
Posting Komentar