Kamis, 12 Juli 2012

HITUNGAN WAKTU DI DETAKAN JANTUNG



adakah waktu akan merambat pelan pada tubuh turunan
seperti detik-detik embun
yang menggelantungi ujung reranting lekung
sebelum akhirnya jatuh turun

di dalam jantungku ada degup yang suaranya menyerupai suaramu
yang selalu memanggil-manggil untuk merindukan sesuatu
pada tubuh waktu

dan ketika suatu waktu luapan itu pecah
ketika dimana rindu-rindu itu kembali meraja
semuanya takkan tertahan
semuanya takkan tertawar
hingga selepas malam pun mengheningkan parunya
takkan tahu hendak kemana mesti termuntah

pada satu terusan yang terlintas
ada garis-garis yang menghampar luas
hingga di sebatas mata menangkap bias
diantara setapak  jalan yang akan hilang ditelan tikungan.


Medan, 03-06-2012

Selasa, 17 April 2012

REMBULAN MEWAKILI ISI HATIKU

ah, kau seakan mewakili isi hatiku
cahyamu  bagai ingin terang sendiri kala waktu itu
pada langit hitam dan kelam angin malam
kau urung sejenak,acuh mengatur jarak
pada siapa enggan menggoda
bintang yg mengerling berlalu sudah
seperti debu yg terhimpun lalu hilang timbul diperaduan

ah,kau yg memang benar bermetamorfosa tak sempurna
dulu,kau -  sungguh itu  - aku
yg gemar bermain di kesendirian
di sudut ajimut
lalu merangkak ke pucukpucuk bianglala
kita memuai
pada perbedaan yg hampir serupa
menyatu dalam lingkup persamaan

ah, kau
rembulan kuning yg beranjak kelabu
kau sungguh aku
yg mewakili isi hatiku



Medan, 23.12.2010
N.K

AKU, CINTAKU, SEBUTIR DEBU

Dulu, Cintaku tak lebih dari Sebutir Debu 
lalu tumbuh berpuluh ribu menjadi aku, Merindu
saat Maya menjadikannya Nyata 
memupuk rasa di Keabsahan Sang Maha

tak perlu risau bila perkara Debu 
dimana Adam sebelum Debu?
 : bahkan Semesta pun terlahir dari seonggok Debu bernama Nebula 
Lantas menjadikannya keindahan yang menghidupkan
Matahari, Bumi, Bintang gemintang 
Batu-batu dicumbuhi Lumut-lumut 
menginangi Biota-biota hidup di dalamnya
evolusi-evolusi Hayati
Tanah, Air, Api, Udara 
Unsur Hidup Semesta yang tiap nafas Berzikir menyebut Asma
pinus-pinus pun berShaf-shaf  rapi di sepanjang Khatulistiwa
lalu aku, yang dulu Batu menjadi Debu setelah Luruh 

aku, yang dulu Batu menjadi Debu 
Memupuk rasa lalu Merindu 
Menjemput CintaMu



MEDAN, 15-04-2011 
~Sajak N.K

MATA HATI


Melihatmu tak sebatas bentuk
tak sebatas rupa
tak sebatas apa-apa yang tersirat di mata

melihatmu, jauh seperti membaca
mengeja
melirik tekateki
bilik-bilik tersembunyi
di balik ada-mu


Medan, 13-06-2011 
~Sajak N.K

DI SEBATANG ASAP KUBERTUALANG

: Di Sebatang Asap Kubertualang


Waktu terus berpacu
diantara bara dan abu
ada risau yang terabaikan
saat ujung jemari
berkali lentik memetik percik
dan tak pula berujung puas

disini tegun ku nikmati
asap mengepul menikah siri
merentak gemulai tarian si putih
di rongga-ronga hati
paru-paru dan ventilasi
lalu  pergi membentuk wujud tanpa bias
menggiring pulas pada malam yang hampir tergilas

malam ini begitu ringan
ku ingin terbang tanpa beban
ku ulur benang segumpal kepal
benang panjang dari pembakaran
layanganku pun liar melayang-layang




Medan, 21-09-2011
 ~ N.K

PERTEMUAN PUTIH

Hanya sepenggal nada pendek dan mata cokelat yang menari-nari
waktu mendadak terhenti
meski perhelatan baru saja dimulai
dan hingar bingar yang perlahan memadati ruang-ruang kosong perjamuan
sedari tadi masih sama kita nikmati
dalam peraduan mata yang paling diam
mengalir seperti riam

dum, ada yang meledak di sini
di hati
milyaran atom  sedang melepas energinya sendiri
dan meledak
bikin sesak

aku ingat benar perasaan ini
rasa yang mampu mengaduk duka dan suka menjadi satu
menjadikan hari makin berwarna
dulu pernah pergi dan kini datang kembali
seperti ingat jalan pulang kepada yang hak

jika tiada peng-andaian malam ini
yang tergadai 'tlah beranjak jauh dan hati masih terbelenggu
kaca pecah
remuk redam diriku memandang bayangan

bisik bimbang datang berulang kali seperti rotasi
mendaur dan pelan-pelan mendesir
pecah
merencah ladang gersang

mungkin suara-suara itu akan segera pulang
di suatu sore, meski tanpa undangan
lalu berlalu-lalang di ujung kepala
membawa  kabar gembira
atau sekedar menggoda
mengaduk gundah dan membuncah




Medan, 22 November 2011 
Sajak N.K

Senin, 16 April 2012

INISIAL "C" (I)

I.

Sayang,
Baumu kembali tercium di butiran Almond Amygdala-ku.
di setiap dentikan jarum jam berpindah,
di hela nafas dan katup mata yang menebal,
di difusi hati,
seperti riuh gerimis mengalir,
rerumput pasrah.

sayang, adakah waktu mampu menutup luka,
pada yang menganga dan tak pernah kering.
aku ingin menjadi matahari dan tegar.



Medan, 08 April 2012
N.K

INISIAL "C" (II)

II.


Aku tak mampu berdusta. atau -mungkin- tak sanggup lagi mendusta. ketika khayal begitu liar bermain rasa di dinding hati. begitu lekat menjadi entah. begitu luruh membutir pasir membentuk waktu. di sana ada detik yang melingkar panjang membentur batu.

dan bacalah di dinding-dinding tanpa jendela. di liur langit menggenap semalam, merekatlah sekuntum mawar menabur duri. wewangi apa yang kutiduri. wewangi bunga? wewangi langkah mentari pergi ? melepas bayangkah?
wewangi debu di mata oase, aku menghunus haus sedalam daging.

ada jejak yang tertinggal, di lubuk perigi, lubuk terdalam mahira. jatuh mendentingkan riak.
dan waktu yang terjatuh di baris kelima deretan mei, masih merah terlingkar. semerah telapak kakimu dulu. yang menjinjit mundur di kisah tak berujung. air mata batu. jangan lepas kata bungkam.



Medan, 08 April 2012
N.K

SEBAIT GARIS


Seberapa jauh perjalan itu, kita terlalu letih menghitung hela langkah nafas sendiri.
sebab tak ada yang tahu pasti ujungnya.
menerka-nerka kita buta.
namun begitu indah bukan
jika kita jalankan ikhlas.
sesempit apapun  jalan itu dilalui,
di tepinya akan tumbuh berderet pohon palem
membentuk baris,  kita lewati satu per satu.
tak ada cemas sebab teduh menghampiri
bayangan saling menimpah tindih
dan hari-hari hanya tahu melangkah maju.


Medan, 09 April 2012
N.K

Senin, 06 Februari 2012

SAJAK SEBELUM SENJA

lung terbenam
kutemukan lazuardi di pucuk matamu yang paling dalam
bisu-mu lingga bertulis aksara 
bergelantung bak mayang sebelum lambai

mengapa mesti menunggu, kekasihku
merenung pun tak mencapai muntaha
kita hanya insan dalam laju perburuan
atas permainan yang tertuju entah pada siapa
sebab kehidupan adalah hijrah yang paling nyata
dari ada menuju tiada, kembali ada setelah tiada

seperti genggaman di lipatan saku
tak perlu menyangkal meski mata tak membaca
atau lupa adalah hal yang lumrah?

berlabuh lah di satu titik, lantas rampungkan
puzzle yang terserak mesti tersusun
sebelum raga tersantap waktu



Medan, 16,02,2011
~N.K

UNTUKMU, AKU PAYAH MELUPA

:Teruntuk Cha

UNTUKMU, AKU PAYAH MELUPA


Padahal bayang itu tak pernah legam
dari awal menyulut lilin hingga padam



Kau,
lantun sajak yang mengayun jauh
membisik rindu di telinga kiri
dengan senyum rekah delima

hendak  kemana kau bawa kunci itu?

kau,
suara-suara yang  terngiang jauh
makin gaduh, aku takut
kabut menelan jejakmu di ujung jalan itu

hendak kemana kau bawa kunci itu?

kau,
seperti yang hilang dan berjejak
kadang terasa dekat
seperti bau mulut di hela nafas,
atau bunyi jantung yang berdetak

hendak kemana kau bawa kunci itu?

malam ini malam setahun kau berlalu
sama seperti dulu
kelambumu terbentang lebar, basah disinari purnama
aku payah melupa
bayangmu seperti nafas penghadir kehidupan
mewujudlah di selah-selah rinai
mengalir di paritku yang penuh genangan
titi yang berdiri tegak itu kuat menahan arus
adalah tempat sebaik menyandar

kau,
membawa kunci dan pergi
jiwaku tersesat di serumpun ilalang
linglung diantara jalan bercabang

meski berpantang toleh ke belakang
apalah daya, mata latah terkenang jua




Medan, 16 Oktober 2011
~N.K

SAJAK SIKAT GIGI

Berita di tivi tiap pagi bikin enek
sama pahitnya seperti ampas kopi tubruk
semua saling mengendap, menjadi satu kesatuan kotoran yang menyatu
ketika panas kenapa tak tersentuh?
ah, kopi
baiknya kuseduh kembali
sebelum sikat gigi
kutenggak setengah dan kumur-kumur
sebagian kusemprotkan di berita sampah media massa
lalu tertawa terbahak dengan variasi yang selalu tidak sama
di kopi pagi dan segenggam roti yang ternikmati
indah benar hidup ini jika pandai goyang kaki

di radio koar yang sama acap terdengar?

jika ingin duduk di kursi jangan lupa sikat gigi
biar bicara tak  bau basi
kalau pandai bernyanyi kenapa tak jadi musisi
disini lumbung padi mesti terisi dan suasana angin mestinya berganti tiap pagi

hei tuan pendekar pedang tumpul, kenapa mandul?
bulu-bulu itu kumpulan tanda
pantas saja mata lain melirik curiga
itu berewok seperti sengaja dipelihara
pisau cukur 'tlah tersedia di tangan kanan
dan sabun di tangan kiri
jangan asal sikat nanti terluka sendiri
kasih pelicin biar aman
jangan lupa cuci tangan

tuan pendekar harusnya rajin sikat gigi
sikat segala kotoran biar bersih dari kuman
bukankah bersih bikin nyaman
seperti slogan yang terpampang di spanduk-spanduk taman:
'Bersih adalah sebagian dari iman'.



Medan, 01-11-2011
~N .K

MENGAYUN MALAM


Di ujung lidah lilin itu kau tenun nyanyian sunyi.
Sebongkah kata memisah terbatah
mengimbangi laju detak arloji dan deru nafas yang sama pelannya.

Ah, betapa sama seperti kemarin
Kita yang mengepakkan sayap-sayap hitam di punggung malam
dan membasahi bibirnya di perhelatan
Menyalakan pendar dalam kepasrahan.

Biarkan saja rembulan membentangkan lengannya,
biar membukit cemburu itu di celah mega,
lantas jatuh di tengah telaga.
sedang aku,
cukup memangku dagu mengulum rindu 


Medan, 06-12-2011
Sajak NK

RE

Tak ada puisi yang paling putih
selain engkau, wahai
yang mengerang dalam kepasrahan
menundukkan takjub akan keindahan
dalam genggaman tabir yang turun bertubi-tubi,
perlahan dan pasti
seperti rinai penyemai kehidupan

Rahim Malam, 12 Desember 2011
Sajak NK

LIAR

Sekelebat langkah-langkah itu beriring menghantam suara
bercak air, basah
melesat satu-satu seperti kilat.
pasti di luar sedang gerimis
pasti binatang-binatang itu bimbang menentu arah
dimana arak yang tertuang tadi?
dahaga ini, gelisah.

daun-daun bambu itu menggesekan keraguan
berat oleh embun yang mencari jalan turun
entah sampai kapan menunggu bintang jatuh
langitku patah

celaka, cemas berakar tunas di antara helai-helai lontar
kering dan tak satu pun terbaca,
Semesta maklum, kita memang sedang buta.

Betapa ingin kuendus bau angin itu di lidah
bau kerinduan
tak ada yang lebih manis dari bayang yang jatuh di bawah pelipis.
kereta itu telah pergi menyusul derap-derap basah langkah kaki di percikan bara yang berlomba
dalam lingkaran kita setubuhi malam.

hai binatang malam
basah dadamu terguyur
rerintik panjang menarik batas yang hilang
di kabin dan lorong sama dingin
di hatimu tentu tidak.
boleh ku bernaung wahai, dulu yang membeku dalam perapian.
aku ingin terjun.
mengalir dari tempat tertinggi menuju palung terdalam.
mengisi kosongmu.

jejak-jejaknya masih harum,
tersusun sedemikian rapi di dinding-dinding berjerejak besi tanpa ventilasi.

hendak kemana segala tualangmu tertumpah
jika semua 'tlah teraduk di segelas kopi yang terseduh sore tadi
dan habis terteguk menjadi parak saat layu mawar di jambangan.


MEDAN, 17 Desember 2012
NK

PERBINCANGAN HENING

Rembulan mendayung sampan
langit berkaca
riak-riak kecil cahaya

ketika larut berjalan acuh

kutanam sebatang rindu pada mimpi yang tertunda
gundah habis tebas di selembar sajadah
dahi merata bumi,
mengecupMu, kekasih



Medan, 07-01-2012
03.14
N.K

SANG PENGISI

RE:

Apa yang dicemaskan ketika kita basah.
hadirmu terlanjur menusuk jarum menit yang beranjak gegas
dirudung cemas dan gulana yang kian membentangkan tirai-nya
dalam khusyuk dedaun basah yang dihujami embun berganti,
dan mata tajam itu,
kian kemari, mendikte.

apa yang salah jika kita basah.
bukankah kita terlanjur terikat di persahajaan rasa
polos dan pasrah.
ketika kubalikan telapak tangan dan enggan menggenggam dingin
asap aromatik Anisette menguap perlahan
membalut kabut kretek yang menari-nari girang di caping hidung
dan mengakhirinya di rongga-rongga sebelum tertenggak turun
lalu bergantilah di sini
kekosongan hati yang mereda
yang tertuang berkali di retak kecil yang melingkarinya.


Medan, 18 Desember 2011
N.K

__________________
*Anisette: Larutan opium dan alkhohol, biasa digunakan sebagai pereda rasa sakit.

TARIAN PUNTUNG ROKOK

Kaki-kaki di tanganku nakal tak henti
kian lincah berlari
mengikuti jejak jejak Amigdala yang berpacu liar menembus ruang dan dimensi

dan berdansalah imaji

menyenada gitar haluan
naik-turun di kabut nikotin

Medan, 24-01-2012
NK

BEJANA TUA

Sepasang mata bisu merajut kusut jaring prisma kelabu
menelan ragu di engkau;
rembulan biru

maka bermainlah kata-kata
di paruh bumi yang menganga
tersebut sebuah nama
membangun tiang dan lelap

pada dosa lama siapa yang membuka?
darah putih,
bersih di lingkaran
dijilati takdir yang menggaris lurus

tuan lupa hari ini adalah hutang kemarin
maka biarkanlah bejana itu retak dan memanjang
atau kutabur saja debu di anak-anak sungai
dan menganyutlah ke sana; Muara


Medan, 23-01-2012
N.K

KEMOCENG

kuingin jadi bulu
agar mampu menyapu segala debu di hatimu

ini tubuhku pasrah dan rela

bergemelut debu dan noda
menyucikan jiwamu juga hidupmu
dari segala kotoran nan kumuh

aku tumbal bahagia

menari erotika di labirin mahira
ria memandang indah
meski kumal menyandang raga

kau kukibas debu

kubermandi debu
tak ada yang lebih indah dari cinta yang berguna bagi sesama
bukankah itu sebaik-baiknya jiwa?
di sana, noda pun jadi penyempurna.



Medan, 01-02-2012

N.K

BANGKU KOSONG PINGGIR TAMAN

Kita sama-sama menghitung kepak angin yang beriak sore tadi.
denyir mata air

dan basah bibir bunga membingkai dingin bebatuan lembab.
mengintari pertemuan sunyi hingga enggan mengusik gerak.

adakah lidahku terpaku?

sebab, tak ada kata-kata yang lebih sunyi dari air yang menetes di kelopak matamu.
biru dan begitu dalam kumeraung gigil.

sempat kutanam rindu di rumbai akar mahoni.

benih asa yang kian turun dan telah menjulang tinggi
menembus jantung anak tanah.
kini gugur sebagai dedaun tua dan payah,
mengantarkan pesan luka
di lembaran surat tanpa nama.

begitu sepi di semerbak wangi

begitu senyap dan lelap
pancuran bisu
angin menghembusi dahan, gerak begitu lambat tercitra,
dan bangku itu tetap saja kosong.

aku ingin berlari saja.

mengejar bayang di ujung ufuk
menggenggam jingga
sebelum habis ditelan gedung-gedung angkuh.
biar kelabu,
biar telanjang waktu.



Medan, 01-02-2012
N.K

KE MUARA (PUN) PAYAU JUGA

Yang mengalir jatuh perlahan seperti embun yang habis ditelan siang
dimana alur telah ditentukan
begitu juga jalan yang harus ditempuh
dan semua telah ada
kita terlahir bukan sebagai pemilih

betapa kita bingung menyusuri gang-gang licin
gang-gang bercabang
dan takdir selalu menggaris lurus

setiap yang terlahir membawa cerita sendiri
membawa garis yang telah tertulis di sana, dulu;
sebelum ada menjadikannya ada
ada menjadikannya kisah
kisah menjadikannya tiada
ada dan tiada bertumbuk di satu lembaran kisah yang sudah ada sebelum tiada

traktat kesefahaman baku
bagaimanakah faham bila tak tahu di-aku
apakah semua bercerita tentangnya
lantas siapa kita?

jika anak-anak air itu telah mengalir ke semua anak sungai
anak sungai lalu meliku-liku
ada tumpukan sampah menghadang
ada akar pohon melintang
ada yang mengambang
ada yang hanya sekedar hanyut
yang sial tergenang di rawa dan terbenam
dan bahagialah mereka yang telah tertulis dengan garis hanyut
landai arus membawa liku tanpa kecut

andaikah tiap sungai beralur lurus
seperti takdir yang menggaris lurus
tak mesti bercabang dan payah
bila ke muara payau juga.

Medan, 05-02-2012
N.K