Senin, 06 Februari 2012

MENGAYUN MALAM


Di ujung lidah lilin itu kau tenun nyanyian sunyi.
Sebongkah kata memisah terbatah
mengimbangi laju detak arloji dan deru nafas yang sama pelannya.

Ah, betapa sama seperti kemarin
Kita yang mengepakkan sayap-sayap hitam di punggung malam
dan membasahi bibirnya di perhelatan
Menyalakan pendar dalam kepasrahan.

Biarkan saja rembulan membentangkan lengannya,
biar membukit cemburu itu di celah mega,
lantas jatuh di tengah telaga.
sedang aku,
cukup memangku dagu mengulum rindu 


Medan, 06-12-2011
Sajak NK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar