Di ujung lidah
lilin itu kau tenun nyanyian sunyi.
Sebongkah kata memisah
terbatah
mengimbangi laju detak arloji dan deru nafas yang sama
pelannya.
Ah, betapa sama seperti kemarin
Kita yang
mengepakkan sayap-sayap hitam di punggung malam
dan membasahi
bibirnya di perhelatan
Menyalakan pendar dalam kepasrahan.
Biarkan
saja rembulan membentangkan lengannya,
biar membukit cemburu itu
di celah mega,
lantas jatuh di tengah telaga.
sedang aku,
cukup
memangku dagu mengulum rindu
Medan, 06-12-2011
Sajak
NK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar