Sekelebat langkah-langkah itu beriring menghantam suara
bercak air, basah
melesat satu-satu seperti kilat.
pasti di luar sedang gerimis
pasti binatang-binatang itu bimbang menentu arah
dimana arak yang tertuang tadi?
dahaga ini, gelisah.
daun-daun bambu itu menggesekan keraguan
berat oleh embun yang mencari jalan turun
entah sampai kapan menunggu bintang jatuh
langitku patah
celaka, cemas berakar tunas di antara helai-helai lontar
kering dan tak satu pun terbaca,
Semesta maklum, kita memang sedang buta.
Betapa ingin kuendus bau angin itu di lidah
bau kerinduan
tak ada yang lebih manis dari bayang yang jatuh di bawah pelipis.
kereta itu telah pergi menyusul derap-derap basah langkah kaki di percikan bara yang berlomba
dalam lingkaran kita setubuhi malam.
hai binatang malam
basah dadamu terguyur
rerintik panjang menarik batas yang hilang
di kabin dan lorong sama dingin
di hatimu tentu tidak.
boleh ku bernaung wahai, dulu yang membeku dalam perapian.
aku ingin terjun.
mengalir dari tempat tertinggi menuju palung terdalam.
mengisi kosongmu.
jejak-jejaknya masih harum,
tersusun sedemikian rapi di dinding-dinding berjerejak besi tanpa ventilasi.
hendak kemana segala tualangmu tertumpah
jika semua 'tlah teraduk di segelas kopi yang terseduh sore tadi
dan habis terteguk menjadi parak saat layu mawar di jambangan. MEDAN, 17 Desember 2012
NK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar