II.
Aku
tak mampu berdusta. atau -mungkin- tak sanggup lagi mendusta. ketika
khayal begitu liar bermain rasa di dinding hati. begitu lekat menjadi
entah. begitu luruh membutir pasir membentuk waktu. di sana ada detik
yang melingkar panjang membentur batu.
dan bacalah di
dinding-dinding tanpa jendela. di liur langit menggenap semalam,
merekatlah sekuntum mawar menabur duri. wewangi apa yang kutiduri.
wewangi bunga? wewangi langkah mentari pergi ? melepas bayangkah?
wewangi
debu di mata oase, aku menghunus haus sedalam daging.
ada
jejak yang tertinggal, di lubuk perigi, lubuk terdalam mahira. jatuh
mendentingkan riak.
dan waktu yang terjatuh di baris kelima
deretan mei, masih merah terlingkar. semerah telapak kakimu dulu. yang
menjinjit mundur di kisah tak berujung. air mata batu. jangan lepas
kata bungkam.
Medan, 08 April 2012
N.K
Tidak ada komentar:
Posting Komentar